Monday, February 19, 2018

Kameraman Amatir Versus Profesional

Kameraman Amatir Versus Profesional





Gambar 1.1. Hasil Gambar Amatir Versus Profesional



“Manusia telah dibohongi oleh film selama berabad-abad hanya karna satu peralatan kecil dan sederhana,yakni kamera video”



Kameraman amatir atau profesional sebetulnya hanyalah istilah dan status semata, Seolah – olah ada anggapan bahwa kameraman atau videografer amatir pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Dan,karena hanya amatiran, seseorang akan berfikiran bahwa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus. Sebaliknya, ada anggapan bahwa videografer profesional tentu bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Akan tetapi, ternyata tidak selalu demikian.

Dalam dunia videografi,sebagaiman yang berlaku juga dalam bidang lainnya,profesionalisme merupakan prinsip dan upaya kita dalam bekerja dan berkarya secara sempurna sesuai dengan kaidah, mekanisme, dan standar  kualifikasi tertentu.

Para kameraman profesional yang menjadikan videografi sebagai sebuah profesi, atau setidaknya yang meyebut dirinya sebagai kameraman profesional, sebenarnya belum tentu menghasilkan gambat-gambar yang bagus (contohnya bisa dilihat di layar televisi, khususnya televisi lokal). Sebaliknya, meskipun hanya ditunjukan untuk kepentingan nonprofit dan sekedar iseng, belum tentu seorang kameramen amatir tidak dapat menciptakan gambar-gambar dengan cita rasa profesional. Dengan demikian, kualitas profesional juga bisa diperoleh siapa pun juga.

Kemudahan yang disediakan oleh perkembangan teknologi videografi digital membuat setiap orang mampu (atau merasa mampu) melakukan apa saja selama piranti tersedia, meskipun terkadang mengabaikan atau tidak menyadari  prinsip-prinsip dasarnya, baik secara teknis maupun estetis.

Begitu juga dalam hal piranti videografi. Profesionalisme tidak dibedakan oleh jenis kamera yang digunakan. Piranti hanya membatasi penggunaan hasil akhir, dan ini pun tidak mutlak benar.

Dalam kondisi tertentu, misalnya dalam aktivitas jurnalistik, terkadang tujuan profesional dapat dipenuhi dengan piranti videografi amatir (bahkan oleh kameraman amatir dengan teknik videografi amatiran). Sebaliknya, kita tetap bisa menghasilkan gambar-gambar yang menarik dengan cita rasa profesional.

Memang tidak ada yang namanya kameraman amatir atau profesional sebetulnya hanyalah istilah dan status semata, Seolah – olah ada anggapan bahwa kameraman atau videografer amatir pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Tapi banyak juga orang yang tak mengerti tentang hal itu dan mereka telah langsung menafsirkan bahwa kameraman atau videografer amatir pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang bagus atau kualitas gambar yang bagus. berikut ini contoh-contoh perbedaan uang membuat orang menafsirkan hal tersebut.



Gambar 1.2. Hasil Gambar Amatir Versus Profesional





Gambar 1.3. Hasil Gambar Amatir Versus Profesional



Beberapa contoh perbedaan hasil gambar di atas membuat orang menafsirkan tentang kameraman amatir dan profesional, sebenarnya hasil gambar yang tergantung pada seberapa kameraman itu berkarnya tau seberapa usaha kameraman itu sendiri. Ada bebrapa tips untuk menyikapi hal tersebut berusaha seperti :


  1. Selalu berkosentrasi tinggi saat gambar di ambil

  2. Siap dan bersedia untuk menempuh jalan yang sulit dengan tujuan mendapatkan hasil gambar yang bagus

  3. Tidak takut akan hasil fotonya bagus atau jelek saat dinilai orang



Memang sulit untuk menghilangkan cara berfikir masyarakat mengenai kameraman amatir atau profesional. Untuk memulai sebagai seorang kameraman profesional tak cukup mereka hanya mementingkan hasil gambar menereka tapi, ada beberapa hal yang harus mereka ketahui seperti :


  1. Kamera angle

  2. Komposisi dan framing gambar

  3. Hal-hal yang Perlu di Hindari Ketika Pengambilan Gambar



 


  1. Kamera Angle



Kamera angle adalah teknik pengambilan gambar dari sudut pandang tertentu untuk mengekspose adegan. Sudut pengambilan gambar atau kamera angle ini merupakan sudut penempatan kamera. Dengan sudut yang menarik, kita bisa menghasilkan shot yang menarik pula, dengan prespektif yang unik dan menciptakan image tertentu pada gambar yang disajikan.


  1. Komposisi dan Framing Gambar



Framing gambar (pembingkaian gambar) adalah suatu cara yang menunjukan bahwa sebuah adegan orang, atau objek ditempatkan dilensa kamera. Sangatlah penting seorang kameraman menyadari dampak berbeda yang dihasilkan oleh gambar yang berbeda.

Jika kita merekan secara close up wajah seseorang, maka kita mengajak penonton untuk mengikuti alur pikiran, emosi, dan perkataan orang tersebut. Apabila kita mengambil gambar orang yang sama, tetapi dengan jarak yang lebih jauh, maka para penonton akan mengetahui konteks orang tersebut.

Komposisi framing dalam memperoleh hasil perekaman objek tidak asal rekam saja, tetapi mengupayakan wujud visual video tidak berkesan monoton, sehingga nyaman dilihat.

“untuk mendapatkan karakter komposisi framing yang cocok sekaligus pas dengan selera penonton, sangat diperlukan frekuensi dan intesitas praktik yang cukup tinngi”



Pada dasarnya ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, yang terkait komposisi dan framing gambar. Berbagai hal tersebut adalah sebagai berikut :


  • Walking Space dan Looking Space



Saat mengambil gambar benda atau berjalan, perlu diperhatikan adanya ruang di depan benda itu sesuai arah menghadapnya benda maupun orang tersebut.


  • Head Space



Head space adalah komposisi ruang di atas kepala objek atau suatu benda . Ruang jeda semu berada di antara kepala objek dan frame kamera.


  • In (Arrive/Kedatangan) dan Out (Go/kepergian)



In (Arrive/Kedatangan) dan out (Go/kepergian) adalah komposisi gambar yang menunjukkan bahwa suatu objek itu bergerak mendekat maupun menjauh.


  • Potongan Gambar



Dalam melakukan framing pada manusia perlu diperhatikan pula teknik pemotongan gambar, dan jangan sampai memotong gambar pada persediaan.


  • Rule Of Thirds



ini hanya sebagai patokan dalam membuat komposisi, andaikan layar monitor di anggap sebagai satu bidang persegi yang terbagi menjadi tiga bagian.



Gambar 1.4. Rule Of Thirds




  • Aturan Sepertiga



Panduan yang baik untuk komposisi gambar adalah menggunakan aturan sepertiga, yang berarti kita harus membayangkan frame kita (gambar yang di ambil kamera kita) terbagi menjadi tiga bagian. Aksi/perbuatan dan objek ditempatkan tepat di tengah irisan garis maya vertikal dan horizontal. Penempatan ini akan membuat gambar jauh lebih menarik. Alangkah lebih baik bila kita menempatkannya di horizon atau 2/3 bagian dari atas frame atau 2/3 bagian dari baah frame.

“jika kita merekam orang yang sedang berdiri dalam sebuah adegan yang cukup lama berlangsung, maka akan sangat baik bila kita menempatkan orang tersebut sedikit lebih kekiri atau kanan frame”




  • Garis Imajiner



Garis imajiner digunakan untuk memberi batas posisi kamera dalam mengambil gambar agar tidak jumping dan menjaga kontinuitas gambar. Apabila kita meletakkan kamera posisi disebelah kanan maka untuk pengambilan berikutnya (jika kamera tidak hanya satu) juga harus mengambil dari posisi sebelah kanan.


  1. Hal-hal yang Perlu di Hindari Ketika Pengambilan Gambar



 


  •  Goyang



Salah satu penyebab paling umum yang membuat gambar tidak tajam adalah guncangan kamera, yaitu gerakan kamera saat pengambilan gambar.


  • Terlalu Banya Zoom



PenggGambarunaaan fasilitas zoom pada kamera sebenarnya hanya digunakan ketika dalam situasi tidak memungkinkan. Sebab, gambar yang dihasilkan dengan zoom tidaklah baik karena detail objek sulit tertangkap, fokus menjadi sulit disesuaikan dan gambar menjadi mudah goyang.


  • Terlalu Banyak Panning



Penggunaan panning yang berlebihan akan memusingkan penonton, dan gambar yang dihasilkan pun kurang tajam (karena kamera bingung dengan penysuaian fokus).


  • Gambar Tidak Fokus



Hak tersebut disebabkan pergerakan kamera yang terlalu cepat , penyebab lainnya adalah jarak pengambilan gambar yang jauh. Selain beberapa hal tersebut yang harus masih banyak lagi yang harus dihindari seperti salah pencahayaan, framing klasik dan sudut pengambilan gambar.

Beberapa orang cenderung ingin membuat foto yang bagus secara teknis, yang menunjukan obyek dengan sebaik mungkin. Beberapa orang lebih cenderung ingin membuat foto yang bagus secara estetis, yang menonjolkan keindahan dan bahkan menyampaikan emosi bahkan teknisnya tidak begitu bagus.

Yang jelas, tipe manapun kita sekarang, ada baiknya kita selalu mencoba berkarya lebih dan lebih baik lagi dan jangan selalu merasa puas.

 

Semoga Bermanfaat.... :)

 

Daftar Pustaka

Buku Lengkap Tuntunan Menjadi Kameraman Profesional

(Dari nol hingga jago, dari A-Z, dari teori hingga tips-tips praktis)

Penerbit : BUKUBIRU

 

Febriana Fika Cahya Ningrum
Previous Post
Next Post

0 komentar:

"Kalau mau Copy-Paste artikel boleh saja, tapi sumbernya ke blog ini"