Saturday, February 17, 2018

Sejarah Munculnya kamera video dan Perkembangan Teknologi Kamera Video

[gallery columns="1" size="medium" ids="800"]

Terkadang kita seorang fotografer hanya bisa menggunakan kamera tanpa mengetahui bagaimana sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Contohnya saja pada tahun 1970 an menggunakan pita magnetik, yang berbeda sekali dengan tahun sekarang. Untuk lebih lanjutnya mari kita bahas yuk!
Film atau kamera video yang ditemukan pada akhir abad ke- 19 dan terus berkembang hingga sekarang merupakan perkembangan lebih jauh dari teknologi fotografi. Perkembangan penting sejarah fotografi telah terjadi pada tahun 1826 ketika Joseph Nicephore Niepce dari Prancis membuat campuran dengan perak untuk membuat gambar pada sebuah lempengan hitam yang tebal.
Teknologi fotografi tidak berhenti sebatas penemuan Niepce itu. Tetapi, dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan yang menggagumkan. Salah satu perkembangan menggagumkan dari teknologi fotografi adalah munculnya rintisan pencptaan film atau gambar hidup. Tokoh penting dalam rintisan penciptaan film atau gambar hidup ini ialah Thomas Alva Edison dan Lumiere bersaudara.
Pada tahun 1887, Edison tertarik untuk membuat alat yang berfungsi merekma dan membuat (memproduksi) gambar. Pada waktu itu, Edison tidak sendirian. Ia dibantu oleh George Eastman. Pada tahun 1884, Eastman menemukan pita film (Seluloid) yang terbuat dari plastik tembus pandang. Sedangkan pada tahun 1891, Eastman dibantu oleh HannibalGoodwin untuk memperkenalkan satu rol film yang dapat dimasukkan ke dalam kamera pada siang hari.
Alat yang dirancang dan dibuat oleh Thomas AlvaEdison itu disebut kinetoskop (kinetoscope) yang berbenetuk kotak berlubang untuk menyaksikan atau mengintip suatu pertunjukkan. Pertunjukkan kinetoskop diperkenalkan untuk pertama kalinya di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1894.
Lumiere bersaudara merancang peralatan baru yang mengkombinasikan kamera, alat memproses film, dan proyektor. Lumiere bersaudara menyebutnya sinematograf (CInematographe). Peralatan ini dipatenkan pada tahun 1895. Pada peralatan sinematograf terdapat mekanisme gerakan yang tersendat (intermittentmovement),yang menyebabkan setiap frame dari film yang diputar akan berhenti sesaat, kemudian disinari lampu proyektor.
Perkembangan gemilang dalam sejarah perjalanan film ditandai oleh gebrakan Lumierebrsaudara yang memproyeksikan hasil karya mereka kehadapan publik untuk pertama kalinya pada 28 Desember di ruang bawah tanah sebuah kafe di Paris. Pada hari itu, publik yang menyaksikannya masuk ke dalamnya dengan membeli karcis. Sungguh, 28 Desember 1985 merupkan hari bersejarah. Sebab, hari tersebut sebagai hari kelahiran bioskop yang pertama di dunia.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1905, tempat pemutaran film (bioskop) yang disebut nickelodeon muncul dan berkembang subur di Amerika Serikat. Film-film awal yang dipertontonkan kepada publik adalah film film yang waktu putarnya sangat singkat, yakni sekitar 10 menit. Meskipun waktu putar atau tayanagn singkat, tetapi film itu sudah menampilkan unsur cerita di dalamnya.

Perkembangan Teknologi Kamera Video
Perkembangan teknologi kamera video sangatlah pesat. Sejak ditemukan pada paruh abad ke- 19 hingga kini telah berkembang berbagai tipe kamera movie dari berbagai produsen. Penggolongan berdasarkan merek dan tipe sangatlah banyak dan rumit. Biasanya, penggolongan didasarkan pada sistem kerja dan format media penyimpan.
Sistem kerja kamera video dibedakan menjadi dua macam, yakni kamera mekanik dan kamera elektronik. Kamera elektronik dibagi menjadi dua juga, yaitu kamera elektronik analog dan kamera elektronik digital.
Kamera mekanik adalah kamera yang tidak melibatkan rangkaian elektronik. Kamera bekerja dengan tenaga manusia atau tenaga pegas. Akhir generasi kamera mekanik sudah menggunakan baterai sebagai penggerak rangkaian mekanik. Kamera mekanik menggunakan pita seluloid (film positif) sebagai media penyimpan gambar.
Kamera elektronik analog (yang kemudian disebut kamera analog) adalah kamera yang sistem kerjanya menggunakan rangkaian elektronik. Cahaya yang masuk ke ruang lensa ditangkap oleh kepingan CCD (Charge Couple Device), sejenis chip elektronik peka cahaya, yang berfungsi mengubah cahaya menjadi arus listrik dengan kekuatan yang berbeda beda, sehingga merepresentasikan tiga warna dasar, yakni Red, Green, dan Blue (RGB).
Sementara itu, kamera elektronk digital (yang akhirnya disebut kamera digital) mirip dengan kamera elektronik analog. Perbedaannya hanya pada proses penyimpanan. Cahaya yang telah diubah menjadi arus listrik diubah lagi menjadi data digital (data biner).
Pada kamera analog, intensitas warna dan suara ditentukan oleh kuat atau lemahnya muatan magnetik. Sedangkan pada kamera digital, intensitas warna maupun suara ditentukan oleh data biner hasil olahan perangkat keras dan perangkat lunak.
Perbedaan kamera digital dengan kamera analog juga terlihat pada kestabilan data video pada proses reproduksi. Muatan magnet (data analog) pada pita magnetik akan terus berkurang sesuai dengan frekuensi reproduksi. Hal ini tidak terjadi pada data digital.
Kamera video untuk pertama kalinya muncul sebagai barang mewah, dan hanya dipakai oleh kalangan elite. Sebab , saat itu, harganya sangat mahal, sedangkan penggunaannya masih terbatas pada dokumentasi acara keluarga maupuun kantor.
Namun, lambat laun, seniman film amatir atau video maker amatir lainnya menggunakan kamera video untuk produksi film indie atau jenis video lainnya. Hal tersebut dikarenakan adanya pertimbangan bahwa kamera video lebih mudah dioperasikan, bahkan oleh pemula sekalipun.
Secara historis, format berbaham dasar pita magnetik mulai dikenal luas di seluruh dunia pada paruh kedua periode 1970-an, baik untuk keperluan profesional, seperti stasiun televisi, maupun keperluan pribadi. Pita magnetik yang terdapat dalam kaset video mampu merekam gambar dan suara dengan baik, sedangkan film hanya merekam gambar. Untuk suara digunakan medium rekam lainnya, semsal DAT (Digital Audio Tape). Kelemahan sistem analognya membuat pemakaian video untuk keperlua profesional terhambat.
Pada periode tahun 1960 – 1980, nyaris semua stasiun televisi di dunia (termasuk TVRI yang mulai beroperasi pada tahun 1962) menggunkan kamera 16 mm untuk merekam program acaranya. Mereka juga memiliki studio pemroses film 16 mm dan mesin editingnya. Hal ini tidak ditemui di stasiun televisi swasta nasional Indonesia yang baru beroperasi pada era 1990-an. Dimulai RCTI pada tahun 1989, kemudian SCTV dan TPI pada tahun 1990. Ketika itu, video sudah lazim digunakan untuk keperluan produksi dan editing materi tayangan televisi.
Sama halnya dengan film, beragam video juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan, yaitu U Matic, Betacam SP, Digital Betacam, Betamax, VHS, S-VHS, Mini DV, DV, DVCAM, dan DVCPRO, U Matic merupakan jenis video profesional untuk keperluan televisi sampai era 1980-an. Ketika format Betacam SP yang kualitasnya lebih baik masuk ke Indonesia pada kurun waktu 1990-an, U Matic pun ditinggalkan oleh banyak orang.
Seiring dengan perkembangan zaman, Betamax tidak lagi diproduksi, sehingga VHS menjadi satu satunya jenis video untuk keperluan home video. Kemudian, muncul S-VHS sebagai penyempurna VHS. Kualitas S-VHS lebih baik dibandingkan VHS, sehingga sering kali digunakan untuk keperluan semi-profesional.
Sejak Tahun 1995, pasar dunia mulai dibanjiri oleh teknologi DV (Digital Video). Format yang masuk kategori DV adalah Mini DV,DV,DVCAM, dan DVCPRO. Teknologi Mini DV, DV, dan DVCAM dikembangkan dan dipopulerkan di Indonesia oleh Sony Corporation. Sedangkan DVCPRO dikembangkan oleh Panasonic.
Perkembangan mutakhir dari teknologi video adalah HDTV (Hi definition Television). Format ini masih sangat jarang dipakai di dunia. Format tersebut adalah upaya kelompok video untuk menyejajarkan diri dengan kualitas gambar yang menjadi keunggulan film. Kelak, semua televisi di dunia akan menggunakan format itu, dan Jepang telah memulai menggunakannya secara terbatas.
Demikianlah artikel ini dibuat untuk mengetahui sejarah perkembangan Kamera Video dari masa ke masa. Artikel ini saya tulis berdasarkan buku “Buku lengkap Tuntunan Menjadi Kameraman Profesional” yang ditulis oleh Iqra’ al-firdaus. Semoga Bermanfaat, Terima Kasih.
Previous Post
Next Post

0 komentar:

"Kalau mau Copy-Paste artikel boleh saja, tapi sumbernya ke blog ini"