Tuesday, February 20, 2018

Tips n Trik Menjadi Seorang Kameraman Handal



Hai-hai gan.. ketemu lagi sama ane.. nah disini ane akan berbagi masalah gimana sih caranya jadi kameraman yang handal, gak amatir gitu, biar kelihatan pro wkwk.. nah gan simak dibawah ini yee.. :D

Btw jangan lupa share ya gan kalo ngerasa bermanfaat nih artikel.



(gambar kamera video)



 

Teknik Pengambilan Gambar

Sebelum melakukan shooting atau pengambilan gambar, seorang kameraman perlu melakukan persiapan-persiapan yang berkaitan dengan perangkat kamera. Misalnya, penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya, ia mengikuti panduan pengoperasian yang tertulis pada manual book, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Setelah memahami seluk-beluk kamera, ia perlu memahami adegan dan teknik yang diinginkan. Selanjutnya, menyiapkan peralatan yang akan digunakan, seperti baterai, mikrofon, kabel extension, dan alat lain yang diperlukan. Baterai harus kondisi baik dan penuh, serta semua fasilitas pada kamera dalam kondisi baik.

Seorang kameraman harus fokus ketika hendak mengambil atau merekam gambar, serta memperhatikan tampilan gambar di layar LCD secara teliti. Banyak sekali teknik yang dapat kita lakukan dalam pengambilan gambar (video shooting). Di bawah ini akan diuraikan tentang beberapa teknik pengambilan gambar yang perlu diketahui. Namun, selain teknik-teknik maupun tata cara pengambilan gambar yang harus dimiliki oleh seorang kameraman, ia juga harus memiliki sense of art, karena gambar yang diambil olehnya merupakan karya seni. Setiap orang memungkinkan untuk menguasai teknik-teknik pengambilan gambar. Tetapi, bila ia tidak memiliki rasa seni atau keindahan maka hasil yang didapat pun kurang maksimal. Jadi, rasa seni yang tinggi dapat dijadikan sebagai modal utama untuk menjadi kameraman.

 


  1. Kamera Angle



Kamera angle adalah teknik pengambilan gambar dari sudut pandang tertentu untuk mengekspose adegan. Sudut pengambilan gambar atau kamera angle ini merupakan sudut penempatan kamera sewaktu pengambilan gambar terhadap suatu objek. Dengan sudut yang menarik, kita bisa menghasilkan suatu shot yang menarik pula, dengan perspektif yang unik dan menciptakan image tertentu pada gambar yang disajikan.

Menentukan kamera angle atau sudut pengambilan gambar tidak semudah menata interior ruangan. Lebih dari itu, perlu digambarkan kemungkinan dan efek tampilan gambar yang dihasilkan dengan menggunakan peta ruang produksi tampak atas, atau yang biasa disebut floor plan. Dan, termasuk di dalamnya ialah menentukan posisi blocking, yang meliputi pergerakan kamera dan ketinggian kamera, serta letak tata lampu pendukung adegan.

Sudut pengambilan kamera (camera angle) yang dipergunakan untuk mengambil gambar sebuah objek akan mempengaruhi sikap penonton. Intercut yang dilakukan antara high angle dan low angle dari seseorang akan memperlihatkan pengaruh yang dimaksud atau ada kesan psikologis. Ada lima teknik sudut pengambilan gambar yang bisa dilakukan oleh seorang kameraman ketika hendak melakukan pengambilan gambar terhadap suatu objek. Kelima teknik tersebut adalah sebagai berikut :


  1. Bird Eye View (Pandangan Mata Burung)





(gambar bird eye view)



Teknik bird eye view adalah teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan posisi kamera berada lebih tinggi daripada objek yang diambil. Hasilnya akan menunjukkan adanya lingkungan yang luas, dan benda-benda lain tampak kecil dan berserakan. Pengambilan gambar semacam ini tidak ada ukuran ketinggian tertentu, melainkan atas kebutuhan dan sense yang dimiliki oleh kameraman.

Dalam sebuah film, sering kali ditemukan pengambilan gambar, yang biasanya menggunakan helikopter maupun dari gedung-gedung tinggi.

 

2. High Angle

(gambar high angle)



High angle adalah sudut pengambilan gambar tepat di atas objek, sehingga objek tampak terekspose dari bagian atas. Posisi kamera lebih tinggi di atas mata objek yang akan diambil, sehingga kamera harus di tilt down (menunduk) untuk mengambil objeknya.

Teknik pengambilan gambar seperti ini memberi kesan pendek, kecil, rendah, hina, perasaan kesepian, kurang gairah, dan bawahan.

Teknik high angle ini hampir sama dengan bird eye view. Tetapi, secara sederhana, perbedaan dari kedua teknik ini (top angle) terletak pada point of view atau sudut pandang kamera. High angle lebih sederhana hasilnya dibandingkan dengan bird eye vuew, meskipun teknis bird eye view merupakan pengembangan dari high angle. Bird eye view tampak lebih dramatis dan berkesan dinamis, seperti penglihatan burung dari atas.

 

3. Normal Angle (Eye Level)

(gambar normal angle)



Normal angle adalah sudut pengambilan gambar yang menunjukkan posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata objek yang diambil. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis, melainkan kesan wajar. Biasanya, teknik itu banyak digunakan ketika wawancara atau profil shot. Teknik tersebut dipahami sebagai standar pengambilan gambar dalam ketinggian relatif sedang, kurang lebih sejajar dengan tinggi kameraman. Maka, gambar yang dihasilkan datar dan cenderung monoton bila dieksekusi tanpa variasi lain.

Pada posisi normal angle, kamera ditempatkan kira-kira setinggi mata subjek. Tentu saja normal angle sangat bergantung pada tinggi subjek yang dishooting. Bila kita merekam kelompok anak kecil yang sedang bermain, normal angle untuk orang dewasa tentu saja terlalu tinggi, maka kamera harus diturunkan setinggi mata anak.

4. Low Angle (Frog Eye View)

(gambar frog eye level)



Low angle adalah teknik pengambilan gambar yang diambil dari bawah objek, seperti pandangan mata kodok. Sudut pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angle. Kesan yang ditimbulkan dari sudut pandang ini adalah keagungan, kekuasaan, kuat, dominan, dan dinamis. Sehingga, objek kelihatan mempunyai kekuatan yang menonjol dan tampak kekuasaannya, apalagi untuk membuat lebih dramatis (lebih close up akan lebih kuat efek yang ditimbulkan).

5. Over Shoulder

(gambar over shoulder)



Over shoulder adalah sudut pengambilan gambar dari belakang bahu salah satu objek. Shot ini menjadi alternatif pengambilan gambar two shot objek yang sedang berdialog. Langkah pengambilan gambar dengan over shoulder menjadi alternatif solusi juga untuk adegan dialog agar tidak terkesan mengambil gambar terlalu frontal sehingga seperti reportase.

 

B. Jenis-Jenis Shot



Untuk menghasilkan gambar yang benar dan sesuai dengan makna di balik shot, seorang kameraman perlu mengetahui beragam type of shot atau ukuran framing.

Ukuran framing dibagi menjadi beberapa ukuran standar berdasarkan jauh atau dekatnya objek berikut :

 


  1. ECU (Extreme Close Up)

    (gambar Extreme Close Up)


    ECU adalah pengambilan suatu gambar sebesar mungkin yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia atau menampilkan detail objek. Pengambilan gambar sangat dekat, dan hanya menampilkan bagian tertentu pada tubuh objek. Misalnya, pengambilan gambar pada bagian mata atau mulut. Fungsinya adalah mengetahui detail suatu objek. Objek mengisi seluruh layar, dan detailnya sangat jelas.

    Kekuatan ECU adalah kedekatan dan ketajaman hanya pada satu objek. Biasanya, jenis shot ini banyak dibutuhkan dalam video musik untuk transisi gambar. Kelemahan ECU adalah menentukan depth of field karena jarak antara objek dan jangkauan lensa sangat dekat. Jenis shot ini juga sering digunakan dalam program instruksional.

     

  2.  BCU (Big Close Up)

    (gambar big close up)


    BCU adalah pengambilan gambar pada daerah kepala untuk menunjukkan sifat-sifat yang tercermin dari wajah seseorang atau bagian dari wajah. Misalnya, kedalaman pandangan mata, kebencian raut wajah, dan keharuan seseorang. Hal tersebut merupakan ungkapan dalam komposisi BCU. Jenis shot BCU bisa dipakai untuk drama honor, talk show, dan kuis untuk menggambarkan reaksi atau sebuah benda.

    Pengambilan gambar BCU ini hanya sebatas kepala hingga dagu objek. Fungsinya adalah menonjolkan ekspresi yang dikeluarkan objek. Ukuran BCU lebih memusat atau detail pada bagian kecil tubuh manusia atau aksi yang mendukung informasi.

     

  3. CU (Close Up)



 (gambar close up)



CU adalah pengambilan gambar dari dekat yang menonjolkan bagian kepala dan bahu, atau pemandangan suatu objek gambar dari dekat. Hal itu merupakan bagian dari emosi/reaksi dari objek utama (marah, kesal, dan lain-lain).

Karakteristik dari shot ini ialah objek menjadi titik perhatian utama, sedangkan latar belakang tampak sedikit sekali. Fungsinya adalah menggambarkan secara jelas objek tersebut. Framing pengambilan gambar tipe shot jenis ini seakan-akan kamera berada dekat atau terlihat dekat dengan objek. Sehingga, gambar yang dihasilkan akan tampak jelas dan memenuhi ruang frame. Tipe shot jenis ini juga disebut dengan close shot.

 

4. MCU (Medium Close Up)



(gambar Medium Close Up)



MCU adalah pengambilan gambar yang menampilkan dari bagian ujung kepala sampai dada sehingga memenuhi bingkai (frame gambar). Jenis MCU paling sering digunakan dalam televisi. Fungsinya adalah mempertegas profil seseorang sehingga penonton jelas.

MCU merupakan pengambilan gambar dengan komposisi framing objek lebih dekat dari medium shot. Untuk pengambilan gambar ini, kita harus memperhatikan sendi subjek.

5. MS (Medium Shot)

(gambar medium shot)



MS adalah pengambilan gambar sebatas kepala hingga pinggang. Fungsinya adalah memperlihatkan sosok objek secara jelas. Di sini, objek menjadi lebih besar dan dominan. Sedangkan latar belakang masih tampak sebanding dengan objek utama. Shot ini bagus untuk adegan wawancara, dan penonton akan jelas melihat ekspresi dan emosi objek.

 

6. KS (Knee Shot)

(gambar knee shot)



KS adalah teknik pengambilan gambar hanya sebatas kepala hingga lutut. Shot ini sering digunakan untuk memperkaya keindahan gambar, terutama saat transisi gambar. Knee shot juga disebut dengan medium full shot.

Fungsinya hampir sama dengan medium shot. Disebut knee shot karena memberi batasan framing tokoh sampai kira-kira ¾ ukuran tubuh.

 

7. FS (Full Shot)

  (gambar full shot)



FS adalah pengambilan gambar pada objek secara penuh dari kepala hingga kaki dengan ruang gerak objek sempit. Secara teknis, batasan atas diberi sedikit ruang untuk head room atau jarak. Tipe ini juga disebut dengan medium long shot. Fungsinya adalah memperlihatkan objek beserta lingkungannya.

8. LS (Long Shot)

(gambar long shot)



LS adalah jenis pengambilan gambar dari jarak yang cukup jauh hingga seluruh pemandangan dapat ditampilkan semua di dalam gambar atau memberi kesan kedalaman. LS digunakan untuk mengantarkan mata penonton kepada keluasan suasana dan objek.

9. ELS (Extreme Long Shot)

(gambar extreme long shot)



ELS adalah pengambilan gambar melebihi long shot dengan menampilkan lingkungan objek secara utuh, serta menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, jauh, panjang, dan berdimensi lebar.

Fungsi ELS adalah menunjukkan bahwa objek tersebut bagian dari lingkungannya, berinteraksi dengan lingkungan atau ruang, sekaligus mempertegas atau membantu imajinasi ruang cerita dan peristiwa kepada penonton. Jenis gambar ini memberi orientasi kepada penonton tidak hanya pada satu lokasi, tetapi juga atmosfer, konteks, dan situasi secara keseluruhan.

 

10. GS (Grup Shot)

(gambar grup shot)



GS adalah jenis pengambilan gambar yang mengutamakan suatu kelompok orang sebagai objek gambarnya. Fungsinya adalah memperlihatkan adegan sekelompok orang dalam melakukan suatu aktivitas.

11. ES (Establishing Shot)

(gambar establishing shot)



ES adalah pengambilan gambar dengan menggunakan sudut pengambilan gambar yang besar (wide shot), yang bisanya dimunculkan pada awal suatu adegan cerita untuk memperlihatkan hubungan dari suatu hal secara terperinci, yang akan ditunjukkan pada gambar berikutnya secara jelas dengan pengambilan dekat agar penonton tidak dibuat bingung. Misalnya, shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberikan orientasi tempat terjadinya peristiwa atau adegan itu.

 

12. OSS (Over Shoulder Shot)

(gambar over shoulder shot)



OSS adalah pengambilan gambar yang menunjukan bahwa kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. OSS disebut juga sebagai cross shot.

C. Gerakan Kamera

Gerakan kamera (moving camera) akan menghasilkan gambar yang berbeda. Pergerakan kamera adalah istilah untuk memudahkan komunikasi kepada operator kamera guna menyebut arah gerak kamera yang dimaksudkan. Disebut pergerakan kamera karena perangkat kamera ini berubah posisi dalam proses pengambilan gambar demi sebuah nilai dan estetika video


  1. Panning



(gambar panning)



Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan, ataupun sebaliknya. Pan right adalah gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan. Sedangkan pan left adalah gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.

Panning dibagi menjadi 3 jenis berikut :

a). Following Pan

Following pan adalah gerakan yang paling umum dan sering kali digunakan. Kamera akan mengikuti sebuah gerakan dari objek dengan gerakan panning ke kiri atau kanan. Melakukan panning dalam keadaan long shot akan mengakibatkan penonton dapat melihat hubungan antara objek dengan lingkungannya sehingga tercipta interaksi subjek dengan background yang bergerak.

b). Surveying Pan

Surveying pan adalah kamera yang bergerak secara perlahan guna menelusuri pemandangan, baik hanya sekelompok orang ataupun pemandangan alam. Dari penelusuran ini, penonton dapat melakukan observasi berdasarkan yang ingin dilihatnya.

c). Interrupted Pan

Interrupted pan adalah gerakan panning yang halus, tetapi tiba-tiba dihentikan dengan maksud untuk menghubungkan 2 buah objek, dan objek tersebut terpisah satu sama lain.

2. Tilting

(gambar tilting)



Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah, ataupun sebaliknya. Pada prinsipnya, tilting masih sama dengan gerakan panning, yakni kamera tetap berada pada tripodnya. Disebut tilt up jika gerakan kameranya secara vertikal dari bawah ke atas (mendongak). Sedangkan tilt down adalah gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah (menunduk).

3. Tracking

(gambar tracking)



Tracking adalah gerakan kamera yang mendekati atau menjauhi objek. Track in adalah gerak kamera mendekati objek. Sedangkan track out adalah gerak kamera menjauhi objek.

4. Crabing

(gambar crabing)



Crabing adalah gerakan kamera secara lateral atau menyamping, dan berjalan sejajar dengan subjek yang sedang berjalan. Kamera bergerak mengitari objek. Crab left adalah kamera yang berputar bergerak kiri, sedangkan crab right ialah kamera bergerak ke kanan.

5. Zooming

(gambar zooming)



Zooming adalah gerakan lensa zoom yang mendekati atau menjauhi objek secara optik, dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandang sempit ke sudut pandang lebar, ataupun sebaliknya. Sehingga, gerakan ini bisa memperbesar maupun memperkecil objek.

Gerakan zooming juga terdiri atas 2 macam, yakni zoom in (mendekatkan objek dari long shot ke close up) dan zoom out (menjauhkan objek dari close up ke long shot).

6. Follow(gambar kamera follow)



Follow adalah pengambilan gambar yang dilakukan dengan cara kamera mengikuti objek yang bergerak. Follow thru adalah gerakan kamera yang maju mengikuti gerakan objek yang membelakangi kamera.

 

7. Lead

Lead adalah gerakan kamera yang mundur mengikuti gerakan maju suatu objek.

 

8. Dolly

(gambar dolly)



Dolly adalah kedudukan kamera pada tripod, dan di atas landasan rodanya. Disebut dolly in jika bergerak maju, dan dinamakan dolly out bila bergerak menjauh.

Dolly in dapat digunakan untuk meningkatkan perhatian, rasa ketegangan, dan rasa ingin tahu. Sedangkan dolly out digunakan untuk mengurangi kekuatan titik perhatian dan mengurangi rasa tegang, serta rasa ingin tahu dan harapan.

 9. Framing

Framing adalah gerakan yang dilakukan oleh objek untuk memasuki (in) atau keluar (out) dari framing shot.

 10. Fading

Fading adalah pergantian gambar secara perlahan. Apabila gambar baru masuk menggantikan gambar yang ada disebut fade in, sedangkan jika gambar yang ada perlahan-lahan menghilang, lalu digantikan dengan gambar baru maka dinamakan fade out.

11. Crane Shot

Crane shot ialah gerakan kamera yang dipasang pada alat bantu mesin beroda dan bergerak sendiri bersama kameraman, baik mendekati maupun menjauhi objek.

12. Tanpa Gerakan Kamera

Dalam teknik pengambilan gambar tanpa menggerakan kamera, yang bergerak hanyalah objek yang diambil (moving object). Caranya adalah kamera sejajar dengan mengikuti pergerakan objek, baik ke kiri maupun kanan. Disebut walking in jika objek bergerak mendekati kamera. Dan, disebut walking out bila objek menjauh kamera.

 

 

D. Komposisi dan Framing Gambar

Framing gambar (pembingkaian gambar) adalah suatu cara yang menunjukkan bahwa sebuah adegan, orang, atau objek ditempatkan di dalam lensa kamera. Untuk mendapatkan karakter komposisi framing yang cocok sekaligus pas dengan selera penonton, sangat diperlukan frekuensi dan intensitas praktik yang cukup tinggi.

Pada dasarnya, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, yang terkait komposisi dan framing gambar. Berbagai hal tersebut adalah :

 


  1. Walking Space dan Looking Space



Dalam mengatur komposisi ketika kita mengambil gambar benda atau orang berjalan, perlu diperhatikan adanya ruang di depan benda itu sesuai arah menghadapnya benda maupun orang tersebut.


  1. Head Space (Head Room)



Head space adalah komposisi ruang di atas kepala objek atau suatu benda. Ruang jeda semu berada di antara kepala objek dan frame kamera. Head space ini penting untuk membuat gambar enak dilihat. Bisa dibayangkan jika gambar tak diberi jeda sedikit pun untuk head space, maka gambar terkesan kurang leluasa/longgar.


  1. In (Arrive/Kedatangan) dan Out (Go/Kepergian)



In (arrive/kedatangan) dan out (go/kepergian) adalah komposisi gambar yang menunjukkan bahwa suatu objek itu bergerak mendekat ataupun menjauh.


  1. Potongan Gambar



Dalam melakukan framing pada manusia perlu diperhatikan pula teknik pemotongan gambar, dan jangan sampai memotong gambar pada persendian. Jika hal itu terjadi seakan-akan objek manusia yang kita ambil terpenggal dan terpotong tepat pada persendian. Agar tidak terkesan terpenggal, ambilah framing di antara persendian.


  1. Rule of Thirds



Konsep ini hanya sebagai patokan dalam membuat komposisi, andaikan layar monitor dianggap sebagai satu bidang persegi yang terbagi menjadi tiga bagian.


  1. Aturan Sepertiga



Panduan yang baik untuk komposisi gambar adalah menggunakan aturan sepertiga, yang  berarti kita harus membayangkan frame kita (gambar yang diambil kamer kita) terbagi menjadi tiga bagian. Aksi/perbuatan dan objek ditempatkan tepat di tengah irisan garis maya vertikal dan horizontal. Penempatan ini akan membuat gambar jauh lebih menarik.

Sebaiknya, kita jangan menempatkan orang yang kita rekam di tengah frame hanya karena kita merasa ia cukup penting. Alangkah lebih baik bila kita menempatkannya di horizon atau 2/3 bagian dari atas frame atau 2/3 bagian dari bawah frame.

Jika kita merekam orang yang sedang berdiri dalam sebuah adegan yang cukup lama berlangsung, maka akan sangat baik bila kita menempatkan orang tersebut sedikit lebih ke kiri atau kanan dalam frame. Pengaturan ini akan memungkinkan orang tersebut berbicara menghadap bagian/ruang kosong di dalam frame. Ruang itu disebut ruang untuk hidung (nose room).


  1. Garis Imajiner



Garis imajiner digunakan untuk memberi batas posisi kamera dalam mengambil gambar agar tidak jumping dan menjaga kontinuitas gambar. Supaya lebih mudah, kita bayangkan garis lurus yang memisahkan kiri dan kanan. Apabila kita meletakkan kamera posisi di sebelah kanan maka untuk pengambilan berikutnya (apalagi jika kamera tidak hanya satu) juga harus mengambil dari posisi sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya. Garis khayal ini berfungsi menjaga konsistensi posisi objek antarframe.

 

E. Hal-Hal yang Perlu Dihindari Ketika Pengambilan Gambar

 


  1. Gambar Goyang



Salah satu penyebab paling umum yang membuat gambar tidak tajam adalah guncangan kamera, yaitu gerakan kamera saat pengambilan gambar. Hasilnya, gambar video akan goyang dan tidak nyaman dilihat. Gambar yang goyang tidak dikehendaki dan bisa memusingkan penonton. Gambar semacam ini dihasilkan dari shooting video dengan pegangan tangan pada kamera (grip) yang salah dan belum bagusnya pengaturan napasnya.

Oleh karena itu, tindakan pencegahan harus selalu dilakukan. Solusinya adalah jika melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan tangan, peganglah kamera dengan mantap dan renggangkan dua kaki. Sandarkan tubuh pada sesuatu yang kokoh, rapatkan pegangan kamera ke tubuh, lalu aturlah napas dengan baik agar relaks saat pengambilan gambar. Namun, alangkah lebih maksimal jika kameraman menggunakan tripod agar video yang dihasilkan tidak goyang. Pelajari pula tata cara penyetelan tripod agar kita tetap bisa bergerak dinamis mengikuti keperluan pengambilan gambar.   


  1. Terlalu Banyak Zoom



Penggunaan fasilitas zoom pada kamera sebenarnya hanya digunakan ketika dalam situasi tidak memungkinkan. Sebab, gambar yang dihasilkan dengan zoom tidaklah baik karena detail objek sulit tertangkap, fokus menjadi sulit disesuaikan (baik manual atau auto fokus), dan gambar menjadi mudah goyang.


  1. Terlalu Banyak Panning



Panning ialah pergerakan kamera horizontal ke kiri atau kanan yang dilakukan oleh seorang kameraman ketika hendak mengambil gambar keadaan sekeliling.

Berbeda dengan panning lembut yang menambah dinamis gambar, panning yang cepat akan memusingkan penonton, dan gambar yang dihasilkan pun kurang tajam (karena kamera bingung dengan penyesuaian fokus).


  1. Gambar Tidak Fokus (Blur)



Kameraman amatir diasumsikan menggunakan kamera dengan setting auto fokus, namun sering kali hasil shooting video gagal untuk fokus. Ini disebabkan oleh pergerakan kamera yang terlalu cepat, padahal fitur auto fokus kamera kadang membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengenali fokus objek. Penyebab lainnya adalah jarak pengambilan gambar yang jauh (long shot) sehingga banyak objek yang ada di frame berada pada jarak yang berbeda-beda sehingga kamera kesulitan menentukan fokus.


  1. Salah Pencahayaan



Kemampuan seorang kameraman menggunakan cahaya, baik yang natural maupun buatan, merupakan penentu bagus atau tidaknya suatu video. Biasanya, kameraman pemula mengalami kesalahan pada beberapa hal.

Pertama, backlight, yaitu pengambilan gambar pada angle yang melawan sumber cahaya.

Kedua, kontras terlalu tinggi, misalnya di ruang terbuka mengambil gambar orang yang berkulit gelap dengan background langit putih. Dengan demikian, jika backlight tak terhindarkan (tak ada pilihan angle yang lain) maka jangan lupa untuk mengaktifkan fitur backlight pada kamera video. Selain itu, pengambilan angle yang dekat (medium shoot, close up, bahkan extreme close up) dapat mengurangi kontras warna yang tertangkap oleh lensa kamera video.


  1. Framing Klasik



Kebanyakan kameraman pemula selalu menempatkan objek di tengah frame kamera. Padahal, idealnya, framing ini mengikuti kaidah sepertiga gambar (the rules of third), sebagaimana yang juga dikenal dalam dunia fotografi. Kaidah ini menyebutkan bahwa jika layar kamera dibagi menjadi tiga (baik secara vertikal maupun horizontal), maka objek harus berada di garis-garis pertemuannya (bukan di tengah, tetapi menyamping).


  1. Sudut Pengambilan Gambar (Angle)



Kebanyakan kameraman pemula juga sering mengambil gambar terlalu jauh, yaitu medium shot (MS) dan long shot (LS). Padahal, pada angle kamera ini, detail objek tidak tertangkap jelas. Pada sejumlah produk home video, seperti wedding video, video liputan acara, video ulang tahun, dan lain-lain, potensi daya tarik terbesar ialah emosi/ekspresi manusia yang terpancar dari wajah-wajah para pelaku peristiwa. Oleh karena itu, disarankan untuk banyak melakukan eksperimen perihal angle kamera, terutama memberanikan diri untuk mengambil angle close up (CU) dan extreme close up (ECU).

 

 

Nah sekian dulu nih gan pembahasaan di artikel ane.. makasih ye gan udah ngunjungin blog ane (: 

jangan lupa follow instagram ane ya gan @jjaldesafinadha sama subscribe channel youtube ane dengan nama Jj Al-Desafinadha

(:

Daftar Pustaka

al-Firdaus, Iqra. 2014. Yogyakarta: Buku Lengkap Tuntunan Menjadi Kameraman Profesional.

 

Jj Al-Desafinadha

 

 

 
Previous Post
Next Post

0 komentar:

"Kalau mau Copy-Paste artikel boleh saja, tapi sumbernya ke blog ini"