Saturday, June 30, 2018

RAW Image : Format Gambar “Ajaib” Idola Para Fotografer

RAW Image : Format Gambar “Ajaib” Idola Para Fotografer


Aku yakin sebagian besar dari kalian sudah pernah mendengar kosakata ‘format RAW’. Dalam bahasa Inggris, raw berarti mentah. Lalu bagaimana dengan dunia fotografi? Ya sama saja. RAW dalam fotografi juga berarti mentah. Banyak yang mengira bahwa RAW dalam fotografi adalah sebuah singkatan. Kamu termasuk orang yang mengira begitu? Ehehe, you’re wrong  guys. Supaya makin paham, tentunya perlu sedikit pengetahuan dasar tentang bagaimana proses menghasilkan sebuah foto. Sebenarnya sistemnya sama saja sejak masa lalu hingga saat ini.

[perfectpullquote align="full" bordertop="false" cite="" link="" color="" class="" size=""]Menghasilkan foto itu memerlukan dua tahap, yaitu tahap memotret dan tahap memproses.[/perfectpullquote]

Di masa ketika kamera masih analog, setelah pemotretan maka negative film akan dibawa ke darkroom, alias kamar gelap, untuk diproses dan barulah dicetak di atas kertas. Nah di kamera digital, orang mengira bahwa bagian pencucian negative film itu sudah tidak dilakukan lagi. Nyatanya proses pencucian itu tetap dilakukan, hanya saja tak terlihat. Di mana dilakukannya? Di dalam kamera itu sendiri. Pada dasarnya, kamera digital memiliki prosesor. Bagian inilah yang menjadi darkroom-nya kamera digital.

Kembali lagi ke format RAW, format ini hadir untuk menggantikan negative filmnya kamera jaman old. Kamera akan menghasilkan sebuah file RAW yang biasanya memiliki ekstensi CR2 atau CRW (di Canon). Kemudian file RAW ini diproses, lebih tepatnya dikompresi, menjadi file gambar berformat JPEG. File JPEG inilah yang ditampilkan melalu monitor kamera.

[caption id="attachment_459" align="aligncenter" width="1024"] Gambar 1. Alur pemrosesan RAW image[/caption]

[perfectpullquote align="full" bordertop="false" cite="" link="" color="" class="" size=""]Intinya, RAW adalah sebuah file yang dihasilkan oleh kamera digital dan belum mengalami pemrosesan[/perfectpullquote]

Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.

Perlu diketahui bahwa RAW image tidak dapat dibuka di photo viewer apapun kecuali sudah diedit. Software yang memiliki plug-in untuk mengedit RAW image contohnya adalah Adobe Photoshop dan Lightroom. Pun juga untuk memunculkan plug-in ini kita harus memotret sesuai dengan kaidah RAW image terlebih dahulu. Plug-in tidak akan terbuka jika file yang diimport bukan file RAW.

 



  • Setting kamera DSLR untuk format RAW





Tertarik untuk menggunakan format RAW dalam memotret? Sayangnya tidak semua kamera memiliki format seperti ini. Biasanya hanya kamera DSLR dan kamera-kamera prosumer saja yang memiliki format RAW untuk pengambilan gambar.

Jika kamu menggunakan kamera DSLR, cara mengubah setting file menjadi RAW sangat mudah. Meskipun setiap jenis kamera memiliki fitur yang berbeda, namun biasanya untuk mengubah ke format RAW ini kita cukup masuk ke image setting dan ada setting image quality. Di sana kita bisa memilih format RAW.

[caption id="attachment_460" align="aligncenter" width="520"] Gambar 2. Setting format RAW pada kamera DSLR Canon[/caption]

[caption id="attachment_461" align="aligncenter" width="300"] Gambar 3. Setting format RAW pada kamera DSLR Nikon[/caption]

 



  • Beragam ekstensi file RAW





Masing-masing produsen kamera mengeluarkan kode untuk format RAW sendiri. Jadi file extention untuk format RAW bisa berbeda-beda tergantung jenis kamera. Coba lihat beberapa kode file RAW di bawah ini :




















































.ari (Arri_Alexa).mrw (Minolta, Konica Minolta)
.arw .srf .sr2 (Sony).nef .nrw (Nikon)
.bay (Casio).orf (Olympus)
.cri (Cintel).pef .ptx (Pentax)
.crw .cr2 (Canon).pxn (Logitech)
.cap .iiq .eip (Phase_One).R3D (RED Digital Cinema)
.dcs .dcr .drf .k25 .kdc (Kodak).raf (Fuji)
.dng (Adobe).RAW .rw2 (Panasonic)
.erf (Epson).RAW .rwl .dng (Leica)
.fff (Imacon/Hasselblad RAW).rwz (RAWzor)
.mef (Mamiya).srw (Samsung)
.mdc (Minolta, Agfa).x3f (Sigma)


Untuk melihat file extention, bisa pergunakan Windows Explorer di komputer Anda dan kemudian klik kanan pada file. Silakan lihat nama atau klik tab details.

Format RAW yang banyak diidolakan para fotografer ini tentu memiliki keuntungan dan kerugian dalam pemakaiannya. Yuk simak infonya di bawah ini.

 



  • Keuntungan






  1. White Balance mudah diedit

    [caption id="attachment_463" align="aligncenter" width="600"] Gambar 4. Perbandingan warm tone dan cool tone[/caption]

    Sensor kamera kita tidak secanggih kemampuan mata manusia, sehingga terkadang sensor kamera salah dalam menentukan temperatur cahaya yang diterimanya. Dalam kasus ini, menggunakan format RAW adalah pilihan terbaik untuk menghindari foto yang kekuningan atau kebiruan. Ini cukup membantu saat kita memotret di kondisi dengan temperatur cahaya yang kompleks dan berubah-ubah, sehingga kita mudah melakukan koreksi saat editing di komputer.Membidik dengan format RAW akan memberikan kita keleluasaan untuk mengatur white balancenya kemudian. Mau menjadikannya cool tone bisa, warm tone bisa, sesuka kita. Tambah lagi, saat menggunakan format RAW, perubahan white balance tidak akan mengakibatkan efek posterisasi seperti saat mengedit white balance pada file JPEG.

  2. Kemampuan highlight recovery

    [caption id="attachment_462" align="aligncenter" width="640"] Gambar 5. Highlight recovery[/caption]

    Pernah menangkap gambar awan yang super putih, padahal aslinya terlihat seperti gumpalan-gumpalan permen kapas? Ya itulah yang terjadi jika highlight di foto kita over. Biasa terjadi pada siang hari, overexposure mengakibatkan beberapa bagian foto jadi terlalu terang (washout) sehingga kehilangan detailnya. Dengan memotret menggunakan format RAW, kita bisa mengembalikan detail yang hilang.Sebuah pixel tersusun atas elemen/channel Red, Green dan Blue (RGB). Kadang saat kehilangan detail, dari ketiga elemen RGB tersebut, misal di channel Blue atau Green, masih tersimpan detail yang bisa dikembalikan. Cara gampang untuk mengembalikan detail yang hilang adalah dengan menurunkan highlightnya.

  3. Tak perlu takut dengan ISO tinggi
    Hal yang dihindari fotografer saat memotret di ISO tinggi tentunya adalah noise yang bertebaran di seluruh area foto. Ketika kita memotret dengan format RAW, noise tersebut akan lebih mudah ditekan dengan software editing, dan kualitasnya akan tetap terjaga. Dengan begitu kamu tentu bisa memotret tanpa harus takut dengan noise yang akan dihasilkan.

  4. Lebih leluasa dalam proses editing

    [caption id="attachment_464" align="aligncenter" width="640"] Gambar 6. Synchronize setting pada Photoshop[/caption]

    Memotret dengan format RAW itu ibarat melukis dengan satu set cat dengan warna lengkap. Jadi lain halnya saat memotret dengan format JPEG yang ibaratnya cuma pakai 2 atau 3 warna. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin leluasa untuk berkreasi, bukan? Begitu juga dengan format RAW.Jika setelah direview ternyata banyak foto kita yang underexposure atau masalah-masalah lainnya, kita bisa melakukan proses synchronize pada semua foto tersebut dengan mudah melalui software editing Photoshop atau Lightroom, dan semua foto akan terkoreksi secara otomatis tingkat exposurenya.

  5. Diedit bagaimanapun, kualitas tetap tinggi
    Mau diubah ini-itunya seekstrim apapun, percayalah bahwa foto berformat RAW ketika diekspor ke JPEG kualitasnya masih tinggi. Nah beda halnya jika dari JPEG kemudian diedit blablabla lalu diekspor lagi, kualitasnya akan menurun. Seperti foto yang sudah dikompres lalu dikompres lagi, beberapa detail foto pasti hilang meski sedikit.

  6. Hasil foto super detail
    Kembali lagi mengingat proses pembentukan file RAW, foto tidak mengalami kompresi sama sekali. Maka kamera tak akan mengutak-atik brightness, contrast, white balance, apapun yang ada di foto tersebut. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para fotografer yang suka berkreasi dengan karyanya untuk dapat bereksplorasi lebih leluasa lagi.

  7. Tak satupun data foto akan hilang
    File RAW akan selalu tersimpan sebagai file yang murni yang tidak tersentuh dan tidak berubah. Sama seperti kita menyimpan negative film pada era fotografi film di masa lalu, dengan menyimpan file RAW kita seperti menyimpan negative film dalam format digital. Dengan software seperti Photoshop dan Lightroom, saat kita mengedit sebuah foto dengan format RAW maka proses editing apapun akan disimpan sebagi informasi yang terpisah dengan foto aslinya, dengan begitu foto kita akan selalu murni.

  8. Sebagai bukti kepemilikan foto
    Bayangkan jika ada yang menggunakan foto kita tanpa izin dan mengakuinya sebagai hak milik, file RAW bisa menjadi senjata andalan, hahaha. Tunjukkan saja file RAW dari foto tersebut, maka kepemilikan foto tersebut tidak akan bisa diganggu gugat. Case closed, so simple.

  9. Digital negative – timeless file
    Karena file RAW selalu murni, kita bisa menyimpan dan memprosesnya sesuai kehendak di masa depan, seperti klise film jaman baheula yang dapat dicetak lagi dan lagi. Maka dari itu file RAW seringkali disebut Digital Negative.



 



  • Kerugian






  1. Ukuran file membengkak, macam gajah ...
    Ya tidak seperti gajah juga sih. Karena file nya tidak mengalami kompresi, maka ukuran    filenya lebih besar. Kapasitas memory card menjadi hal yang perlu diperhitungkan saat memakai format RAW. Maklum, bisa sampai 3-4x ukuran file JPEG.

  2. Harus kerja dua kali, shoot dan edit
    Kurang praktis juga ya bekerja dengan format RAW. Format ini tak akan bisa digunakan sepenuhnya, selayaknya file gambar pada umumnya, kalau belum melalui proses editing.

  3. Butuh software khusus untuk membuka dan memproses
    Seperti sudah disebutkan di awal, software khusus diperlukan untuk dapat membuka dan memproses file berformat RAW. Adobe Photoshop dan Lightroom misalnya.

  4. Memperlambat kinerja kamera
    Bukan maksudnya kamera lambat dalam membidik objek seperti membidik dengan  shutter speed rendah, lebih ke lemot respon kameranya. Kalau hanya memotret single shoot maka hal itu tidak terasa, tetapi ketika memakai burst mode atau continuous shooting, coba rasakan sendiri seberapa lemotnya kamera merespon.





  • RAW dan JPEG, mana yang lebih baik?


    [caption id="attachment_465" align="aligncenter" width="1024"] Gambar 7. Hasil JPEG vs. RAW[/caption]



Ok firstly, this is a very common question. Namun salah jika kita melontarkan pertanyaan ini. Coba bayangkan, seorang awam fotografi ingin mengabadikan momen liburannya di pantai bersama keluarganya. Apakah perlu menggunakan format RAW? Ya tentu tidak, repot dong kalau mau lihat hasilnya lewat komputer harus diutak-atik dulu. Beda halnya ketika seorang fotografer wedding yang ingin memuaskan pelanggannya dengan foto-foto yang fantastis dan menarik. Format RAW dapat memenuhi kebutuhan fotografer tersebut.

RAW atau JPEG adalah pilihan. Semua fotografer punya pilihan itu, jika kamera mereka menyediakan. Memakainya atau tidak akan tergantung banyak hal, seperti pengetahuan, kondisi, situasi, dan banyak hal lainnya. Hal ini tidak menandakan bahwa RAW lebih baik dari JPEG atau sebaliknya. Keberadaan format RAW adalah untuk memberikan opsi atau pilihan.

 



  • Akhir kalimat ...





Sudah berada di penghujung artikel panjang nan lebar ini, semoga kalian sudah paham ya dengan format RAW yang telah dijabarkan di atas. Kurang lebihnya penulis mohon maaf. Bila ada pengetahuan lain tentang format RAW, feel free to drop it in the comment section below. Salam hangat!

 




Daftar pustaka :

LB Fotografi. 2017. Mengenal Istilah RAW Dalam Fotografi dan Keuntungan / Kekurangan Memotret Dengan Format RAW. http://fotografi.lovelybogor.com/mengenal-istilah-RAW-dalam-fotografi-dan-keuntungan-kekurangan-memotret-dengan-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Belajar Fotografi Otodidak. 2011. Memahami File RAW dan JPEG pada Kamera. http://otodidakfotografi.blogspot.co.id/2011/11/memahami-file-RAW-dan-jpeg-pada-foto.html (diakses 6-2-2018)

Saveseva Fotografi. 8 Kelebihan Yang Dimiliki Foto Dengan Format RAW. http://www.saveseva.com/8-kelebihan-foto-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Classphotography. 2012. Apa itu format RAW. https://classphotography.wordpress.com/2012/11/10/apa-itu-format-RAW/ (diakses 6-2-2018)

Belajar Fotografi. RAW vs JPEG: Format Mana Yang Lebih Baik? http://belfot.com/RAW-vs-jpeg-jpg-format-file-foto-mana-yang-lebih-baik/ (diakses 6-2-2018)

Aditiawan, Rangga dan Yopie Setianugraha. 2014. Photoshop untuk Fotografer Pemula. Jakarta: Prima

 


  • Further information :



febriana.maurizkid@gmail.com

Instagram : @febong_zz

 

Mengambil Potret Seperti Seorang Profesional

Mengambil Potret Seperti Seorang Profesional
Haloo para pembaca, kalian pasti banyak bertanya kan ya “gimana mengambil foto layaknya orang yang professional?” yuk langsung saja.

Mengambil Potret Seperti Seorang Profesional



Jangan Menyisakan Terlalu Banyak Headroom



Kebanyakan orang mengambil foto seseorang hampir selalu menyisakan ruang di atas kepala ( menyisakan subjek yang terlalu banyak ). Hal tersebut merupakan kesalahan klasik yang dipakai oleh sebagian besar fotografer amatiran, tetapi untungnya kesan lahan ini masih bisa diperbaiki, dengan cara : Jangan melakukan hal tersebut lagi !. Jangan menyisakan banyak ruang pada hasil potret anda. Tip agar hasil potret anda seperti seorang fotografer professional yaitu dengan cara posisikan mata subjek anda di sepertiga frame teratas, maka anda akan bisa menghindari masalah terlalu banyak headroom ini

 

Menjepretlah dengan Orientasi Potret



Sebagian bessar foto yang diambil dengan orientasi horizontal ( landscape ), karena kamera memang didesain dengan posisi seperti itu, untuk bisa dipegang secara horizontal. Itulah kenapa tombol rana berada di posisi kanan atas, tepat pada jari anda berada. Tetapi biasanya potret professional mengambil foto dengan orientasi vertikal.

 

Mengambil Potret Vertikal? Miliki Battery Grip





Jika anda membuat foto potret, anda akan menghabiskan banyak waktu dengan posisi kamera vertical, dan anda juga akan membtuhkan waktu lama untuk menekan tombol rana. Saat hal itu terjadi, anda membutuhkan sebuah vertical battery grip ( aksesoris genggaman vertical berisi baterai tambahan ). Salain membuat anda bisa menggunakan dua baterai ( baterai cadangan ), anda juga bisa memotret lebih lama tanpa perlu mengisi kembali baterai anda, dan ada keutungan besar lain dari battery grip, yaitu alat ini meneydiakan tombol rana dan tombol setelan untuk mengatur diafragma dan kecepatan rana dengan oriaatasi vertical. Maka, rasa nyaman anda ketika sedang memotret vertical akan senyaman seperti pada saat melakukan potret horizontal.

 

Aturan “Mentari di Balik Bahumu” Adalah Palsu



Anda mungkin pernah mendengar istilah “ Mentari di balik bahumu “, yang pada dasarnya menyatakan bahwa saat anda memotret di uar ruangan, anda akan memosisikan matahari di belakang anda (di balik bahu pemotret), agar wajah subjek anda diterangi oleh matahari. Ini merupakan aturan yang tepat untuk orang-orang yang mengambil snapshot, tetapi hal ini merupakan hal terburuk saat anda mengambil potret grup (selain aturan orang yang tertinggi berdiri dibelakang), jika anda ingin mendapatkan hasil potret yang lebih professional, jangan tepatkan sinar matahari yang terang langsung menuju ke wajah subjek (walaupun itulah tepatnya yang dilakukan kebanyakan orang-orang). Yang lebih buruk adalah, posisi seperti itu akan menghasilkan cahaya yang kasar, langsung, dan tidak rata pada meraka. Sebaiknya tepatkan subjek anda dengan matahari di balik bahu meraka (bukan di balik bahu anda), suupaya mendapatkan efek cahaya manis yang mengelilingi subjek anda (memberi garis luar pada rambut mereka), lalu gunakanlah sedikit cahaya lampu kilat (dan jagalah agar tingkat kecerahan lampu kilat tetap rendah) untuk memberi cahaya secukupnya ke wajah subjek untuk membuat mereka menyatu dangan cahaya alami di sekelilingnya

 

Memotretlah dengan Lensa Sudut Lebar dan dengan Komposisi Padat



Konsep ini memiliki peraturan yang dihormati sepanjang zaman, yang menyatakan : “Jangan memotret orang dengan lensa sudut lebar karena mereka akan terdistorsi dan jadi tampak aneh. “ Tetepi ada seorang fotografer top dunia, Joe McNally yang brilian, yang sungguh-sungguh berhasil memecahkan mitos tersebut. Yaitu dengan cara “memotret dengan lensa sudut lebar dan dengan komposisi padat.” Saat anda memotret orang dengan lensa sudut lebar dan anda benar-benar berada sengat dekat dengan subjek tersebut (artinya anda memotret dengan komposisi padat), mereka tidak tampak terdistorsi , hanya benda-benda yang berada di tepi frame foto yang tampak sedikit “lebar,” tetapi benda-benda itulah yang menununjukkkan lingkungan tempat pemotretan dilakukan.

 

Mengambil Potret Profil secara Horizontal



Sekarang, setelah belajar peraturan “Mengambil Potret secara Vertikal” marilah kita melanggarnya! (itulah hebatnya peraturan fotografi, setelah anda mempelajarinya, anda bisa melanggarnya, dan hasilnya pun jadi keren. Yang tidak keren adalah saat anda melanggar peraturan tanpa segaja karena anda sebenarnya tidak mengetahui peraturannya.) Salah satu dimana kita perlu melanggar peraturan ini dengan sengaja adalah saat kita memotret profil subjek kita. Alasannya adalah : karena subjek anda menatap ujung frame, maka kalau anda memotretnya secara vertical, ia akan terlihat terkungkung, dan dan itu akan tampak tidak bagus. Jadi, dengan melanggar peraturan vertical dan memotret profil secara horizontal, subjek anda akan memiliki semacam ruang visual yang lapang dan membuatnya terlihat lebih bagus di dalam frame tersebut.

 

Memotret dari Jauh untuk Potret yang Lebih Rata



Pernakah anda melihat pemotretan kelas atas di TV (mungkin pemotretan fasion atau selebriti), dan apakah anda menyadari dari seberapa jauh jarak fotografer dari subjek foto? Itu karena mereka memanfaatkan fasiltas “lens compression” dari lensa zoom yang lebih panjang (yang sangat rata untuk foto potret). Contoh potret diatas benar-benar bias bercerita, foto yang kiri diambil dengan lensa 50mm,sedangkan foto yang sebelah kanan dengan lensa 70-200mm yang di-zoom out ke 190mm. Banyak fotografer professional membuat foto potret pada titik fokal terpanjang dari lensa zoom mereka. Jadi, kalau mereka memotret dengan lensa 28-135, mereka akan memotret di titik 100mm hingga kekisaran 135mm untuk mendapatkan potret yang terbaik dan paling rata.

 

Kenapa Penyebar Cahaya Berguna untuk Potret di Luar ruangan



  Saat kita berbicara tentang cahaya yang sangar keras dan tidak rata untuk potret, kedua jenis cahaya ini sama saja buruknya : lampu kilat pop-up bawaan dari kamera anda atau cahaya matahari lansung. Jika anda inggin memotret di luar ruangan, da nada area yang teduh di dekat sana, anda bisa memotret disana. Tetapi bagaimana kalau anda berada di pantai, atau di padang pasir, atau di salah satu dari ribuan tempat yang tidak memiliki pohon teduh di dekatnya? Anda pasti memerlukan salah satu alat ini, 83,8cm Lastolite TriGrip 1 Stop Diffuse (alat yang sama seperti lampu kilat untuk memantulkan cahaya yang keras dari lampu kilat eksternal, jadi alat ini berfungsi ganda). Minta saja pada seorang teman anda untuk memegang penyebar cahaya ini di anatara matahari dan subjek (seperti yang ditunjukkan pada foto di atas), dan anda akan langsung mendapatkan cahaya yang lembut, cantik, dan alami di lokasi.

 

Membuat Latar Belakang yang Lebih Baik untuk Potret



Kunci untuk mendapatkan latar belakang yang bagus untuk potert adalah “lebih sedikit, lebih baik”. Kalau anda memotret situasi (foto yang berlokasi di rumah seseorang, kantor, dll.), untuk mendapatkannya bukan dengan teknik “apa yang bisa anda lakukan dengan latar belakang”, melainkan “apa yang bisa anda hilangkan dari latar belakang”. Anda harus mengambil sesedikit mungkin element-element yang menganggu dari latar, entah dengan menempatkan subjek anda di latar belakang yang sangat sederhana dan “bersih” atau, jika itu tidak memungkinkan, menyingkirkan sebanyak mungkin element-element penganggu (atau hiasan-hiasan kecil), seperti seperti foto di kanan atas. Jangan anggap remeh hal ini, untuk membuat foto situasi yang benar-benar hebat, bukan hanya latar depan yang penting. Keseluruhan foto memiliki peran penting sebagai satu kesatuan, dan dengan memilih (atau membuat) latar belakang yang sempit dan “bersih” kesempatan anda untuk memperoleh foto yang bagus menjadi besar.



 

Tip Menciptakan Komposisi Trendi





Karena sebagian besar foto yang anda lihat berposisi horizontal atau vertical, maka melakukan sesuatu yang berbeda akan tampak berbeda, dan sekarang ada sebuah teknik yang sangat populer untuk fotografi potret, yaitu memutar kamera pada sudut tertentu hingga subjek anda tampak berada di sudut bingkai. Tekniknya sangat sederhana, tinggal putar kamera anda sedikit ke kiri atau ke kanan, lalu jepretlah. Anda mungkin perlu mencoba beberapa kali hingga menemukan posisi yang pas bagi subjek anda di dalam frame. Gaya ini (yang telah ada selama bertahun-tahun) kini semakin populer kembali.

 

Memotong Puncak Kepala





Dalam teknik komposisi ini, anda benar-benar memotong puncak kepala subjek anda. Ini adalah teknik professional yang sangat populer. Tekik ini mengisi frame anda dengan kepala subjek. Komposisi padat seperti ini membuat tampilan foto lebih menarik, seperti yang anda lihat di atas. Anda akan melihat teknik komposisi ini di mana-mana dan telah menjadi aliran utama para fotografer fasion, kecantikan, dan potret. (memotong puncak kepala bukanlah sebuah masalah, demikian pula memotong salah satu sisi tangannya, bahu, rambut, dll. Tetapi satu hal yang tidak boleh dipotong : dagu. Bagian puncak kepala dipotong akan terlihat alami, tapi jika dagunya yang di potong maka komposisi foto tersebut akan terlihat sangat jelek.)

Penutup

Demikian beberapa cara atau tip mengambil potret seperti seorang professional yang perlu anda katahui. Tentunya untuk memahami fungsi atau kegunaan dari cara tau tip tersebut anda harus banyak berlatih dan menggunakan tip tersebut

Sumber : "The Digital Photography Book " Jilid 2, Bab : Mengambil Potret Seperti Seorang Profsional


Scott Kelby


 

UNIQUE FITUR COLOR TONE ADOBE LIGHTROOM

UNIQUE FITUR COLOR TONE ADOBE LIGHTROOM



Adobe Lightroom merupakan aplikasi pengolah foto yang pada dasarnya mengacu pada editing color hampir sama dengan salah satu keluarga Adobe yang lain yaitu,  Adobe Photoshop. nama Lightroom sendiri selalu di bayang bayangi kata photoshop,  namun yang membedakan Lightroom lebih menonjol ke editing efek foto dan terdapat fitur preset coloring yang di sediakan siap pakai. di lighroom adanya istilah ‘COLOR TONE’ialah mode editing color yang menitik beratkan baik pada Brightness, Filter, Contrast, & HSL (Hue saturation & luminance). di sini kita akan mempelajari ‘COLOR TONE’ melalui fitur Split Toning & Tone Curves salah satu fitur yang tersedia di Adobe Lightroom.

SPLIT TONING

Fitur yang biasa di pakai untuk memberi warna pada Hightight dan Shadows pada suatu foto berbagi tujuan tertentu. Split Toning dapat mengontrol secara custom coloring dan pencahayaan pada lightroom, serta dapat memberi kesan efek sesuai keinginan. Fitur ini jika di gunakan pada foto hitam putih dapat mengatur gelap terang foto , baik abu- abu terang atau sekedar putih. berikut penggunaan fitur Spilt Toning secara basic.


  1. Mula – mula siapkan foto yang akan di edit terlebih dahulu kemudian import foto tersebut ke dalam Lightroom. Kemudian pada pojok kanan atas pilih mode Develop.





Gambar 1. Import foto dan pilih mode Develop pada pojok kanan atas




  1. Untuk style editing nya sesuai selera paling tidak hasil foto enak untuk di pandang. Gunakan saja basic Exposure Editing. Langsung saja setting Exposure Brightness sesuai selera seperti pada gambar berikut.





Gambar 2. Menu – menu yang terdapat pada panel Basic




  1. Setelah mengatur Exposure & Brightness sesuai selera, kemudian atur White Balance terlebih dahulu. Tarik indicator kea rah kiri ( biru ) atau ke Kanan ( kuning ) sesuai selera. Nantinya kurang lebih hasilnya seperti gambar di bawah ini





Gambar 3. Setting Color White Balance



 


  1. Setelah selesai langsung mainkan Split Toning tinggal scrool ke bawah pada panel sampai ketemu sub menu Split Toning.





Gambar 4. Sub menu Split Toning




  1. Setelah ketemu Sub menu Split Toning langsung saja pilih Hightlight terlebih dahulu.untuk custom color nya lebih variatif pilih kotak persegi panjang yang terdapat pada Hightlight, kemudian atur sesuai selera.





Gambar 5. Setting custom Hightlight Color pada Split Toning,




  1. Kemudian atur juga Hue, Saturation & Balance sesuai selera secara custom dengan menarik indicator pada tiap efek ke arah kiri atau ke kanan.





 

Gambar 6. Setting Hue , Sturation & Balance




  1. Kemudian beralih ke Shadows pilih kotak persegi panjang di samping tulisan Shadows untuk custom colornya . setting sesuai selera dengan komposisi yang sesuai.





Gambar 7. Custom color Shadows




  1. Setelah selesai atur juga Hue dan Sturation nya sama seperti pada Hightlight sesuai selera.





Gambar 8. Setting Hue & Sturation pada Shadows




  1. Sebagai Contoh hasil setting Exposure Brightness yaitu, Kuning untuk Hightlight dan Ungu untuk Shadows. Hasil seperti gambar di bawah ini.





Gambar 9. Hasil editing Exposure Brightness dengan Split Toning pada Adobe Lightroom.



Itu dia salah satu cara penggunaan fitur Split Toning pada Editing ‘Color Tone’ di Adobe Lightroom. Terkesan simple karena Lightroom sendiri memiliki keunggulan custom setting yang memudahkan kita saat mengedit foto . Selanjutnya editing ‘Color Tone’ mealui Curve Tone.

 

TONE CURVES

Bagi pemula di photoshop TONE CURVES banyak di hindari. Namun di Adobe Lightroom Curves dapat di gunakan dengan cara yang muda. Curves berfungsi untuk mengstur nilai intensitas pada daerah shadows, mid dan hightlight dengan cara menaikkan atau menurunkan kurva. Penggunaan Curves sendiri butuh ketelitian karena jika saja tidak pas akan mengakibatkan hilangnya detail pada daerah – daerah tertentu. Ada beberapa fungsi Curves pada pada lightroom yaitu,

 

MENAMBAH CONTRAST

Ada formasi untuk menambah contrast yaitu, S -  Curves, yaitu menaikan & menurunkan Hightlight curva di area Shadows. Cara ini memiliki keunggulan untuk melakukan masking di area Shadows.



Gambar 1.1 Panel Curves pada Adobe Lightroom.



 

MENERANGKAN FOTO

Salah satu fungsi lain Curves ialah menerangkan foto atau menambah intensitas Cahaya pada foto tersebut. Hal pertama yang perlu di perhatikan adalah melihat Histogram foto. Sebagai contoh perhatikan foto di bawah, jika ada Clipping area tinggal geser slider hightlight ke area yang ada informasi hightlight - nya.

Gambar 1.2 Clipping area pada Curves tinggal setting dengan cara menggeser slider hightlight ke kiri



 

Hasil nya akan menambah kontras pada langit. Menggeser slider hightlight ataupun shadows fungsinya hampir sama ketika menggeser hightlight slider di level.



Gambar 1. 3 Hasil setting S – curves yang menambah contrast langit pada foto.



 

MENGUBAH WHITE BALANCE

Ini merupakan salah satu fungsi yang sering digunakan di Curves sebagai pengatur White Balance. Pada lightroom ada cara cepat setting nya cara pertama, yaitu dengan memakai White color sample. Tools ini akan merubah  Channel RGB  foto tergantung si klik di area mana yang diinginkan .pada settingan ini dapat disesuaikan selera untuk mendapatkan hasil yang pas sesuai.

 



Gambar 1. 4 Color white sample pada curves



 

Cara kedua mengatur WB yaitu, dengan mungubah Channel Red, Green, Blue secara satu per satu. Langkah pertama buka tools Curves, posisinya berada di atas kolom Histogram ada panel Channel, di situ lah tempat merubah Channel RGB satu per satu, sesuai selera entah itu menaikan atau menurunkan. Sebagai contoh kita akan menurunkan sedikit saja channel Red dan Green , serta menaikkan Channel Blue . Atur sedemikian rupa untuk menghasilkan komposisi yang pas.Setelah selesai , kembali ke channel RGB, terus jika  merasa terlihat kurang kontras nya atau kurang terang, maka tinggal mengubah kurva utama ( berwarana hitam ) dengan formasi S - Curves atau dapat di sesuaikan dengan selera. Seperti contoh berikut.



Gambar 1. 5 Setting Channel RGB ( Red & Green,RGB ( Blue )

Kesimpulan Curves sendiri memiliki keistimewaan dengan menyediakan setting custom yang sangat leluasa sesuai keinginan dan kebutuhan. Dengan cara yang praktis dan mudah semakin menambah poin lebih pada Adobe Lightroom. Dibandingkan dengan Split toning Curves memiliki keunggulan lainnya yaitu dapat membuat titik – titik pada garis lengkung Curves

Gambar 1 . 7 Custom titik – titik di Curves pada Lightroom



Selain itu Curves memiliki ke unikan di saat mengatur kontras ataupun RGB nya dengan cara membuat lengkungan yang semakin mempermudah dalam editing Color Tone pada foto. Itu merupakan sedikit informasi tentang Color Tone pada penggunaan fitur – fitur di Adobe Lightroom.

Daftar Pustaka